Laman

Rabu, 23 Juni 2010

PEMBESARAN IKAN NILA


PENDAHULUAN
1. Peran Perikanan Budidaya di Indonesia
Perikanan Budidaya di Indonesia merupakan salah satu komponen yang penting di sektor perikanan. Hal ini berkaitan dengan perannya dalam menunjang persediaan pangan nasional, penciptaan pendapatan dan lapangan kerja serta mendatangkan penerimaan negara dari ekspor. Perikanan budidaya juga berperan dalam mengurangi beban sumber daya laut. Di samping itu perikanan budidaya dianggap sebagai sektor penting untuk mendukung perkembangan ekonomi pedesaan.
Besarnya kontribusi perikanan budidaya dan penangkapan ikan air tawar terhadap total produksi ikan nasional sebesar 29,1%. Total produksi perikanan budidaya meningkat 20,14% per tahun dari 1.076.750 ton pada tahun 2001 menjadi 2.163.674 ton di tahun 2005. Peningkatan ini merupakan dampak dari inovasi teknologi, pertambahan areal dan ketersediaan benih ikan yang berkualitas. Pada tahun 2005, total produksi nasional dari budidaya ikan sebesar 2,16 juta ton (Made L. Nurjana).
2. Perkembangan Perikanan Budidaya Air Tawar
Menurut Made L. Nurjana (2006), perikanan budidaya air tawar dimulai sejak jaman penjajahan Belanda dengan penebaran benih ikan karper/ikan mas (Cyprinus carpio) di kolam halaman rumah di Jawa Barat, pada pertengahan abad 19. Praktek perikanan budidaya ini kemudian menyebar ke bagian lain Pulau Jawa, pada awal abad 20. Namun demikian baru pada akhir 1970 an terjadi peningkatan produksi yang luar biasa dari budidaya ikan air tawar. Adanya pengenalan teknologi baru dalam perikanan memberikan kontribusi pada ketersediaan benih yang dihasilkan dan perkembangan pakan ikan. Spesies yang umum dibudidayakan adalah ikan karper/ikan mas (Cyprinus carpio), ikan nila (Oreochromis niloticus) dan gurami (Osphronemus goramy).
Areal potensial untuk perikanan budidaya (Tabel 1.1) terdiri dari kolam, sawah (mina padi) dan perairan umum. Perikanan budidaya di perairan umum meliputi karamba dan kolam. Perairan umum yang cocok untuk budidaya ikan berupa sungai, danau, waduk dan lain-lain. Kegiatan budidaya ikan yang dilakukan di perairan umum haruslah ramah lingkungan, produktif dan mempertimbangkan pemakaian lainnya. Berdasarkan pertimbangan ini diperkirakan sekitar 1,5% (158.200 hektar) dari perairan umum di Indonesia cocok untuk kegiatan perikanan budidaya.
Tabel 1.1
Areal Potensial untuk Budidaya Ikan Air Tawar di Indonesia
No
Jenis Potensi Budidaya
Luas (Ha)
1
Kolam air tawar
526.400
2
Perairan umum
158.200
3
Sawah
1.545.900
Total
2.220.500
Sumber : Hasil Survei Ditjen Perikanan, 1998
3, Budidaya Ikan Nila dan Prospeknya
Ikan nila merupakan salah satu komoditas penting perikanan budidaya air tawar di Indonesia. Ikan ini sebenarnya bukan asli perairan Indonesia, melainkan ikan introduksi yang berasal dari Afrika (Khairuman dan Khairul Amri, 2006). Menurut sejarahnya, ikan nila pertama kali didatangkan dari Taiwan ke Balai Penelitian Perikanan Air Tawar, Bogor pada tahun 1969. Setahun kemudian ikan ini mulai disebarkan ke beberapa daerah. Pemberian nama nila berdasarkan ketetapan Direktur Jenderal Perikanan tahun 1972. Nama tersebut diambil dari nama spesies ikan ini, yakni nilotica yang kemudian diubah menjadi nila. Para pakar perikanan memutuskan bahwa nama ilmiah yang tepat untuk ikan nila adalah Oreochromis niloticus atau Oreochromis sp.
Budidaya ikan nila disukai karena ikan nila mudah dipelihara, laju pertumbuhan dan perkembangbiakannya cepat, serta tahan terhadap gangguan hama dan penyakit. Selain dipelihara di kolam biasa seperti yang umum dilakukan, ikan nila juga dapat dibudidayakan di media lain seperti kolam air deras, kantung jaring apung, karamba, sawah, bahkan dalam tambak (air payau) sekalipun.


Gambar 1.1 Oreochromis Niloticus (Oreochromis sp).
Salah satu daerah yang potensial untuk budidaya ikan nila di Indonesia adalah Provinsi Jawa Tengah, khusunya Kabupaten Klaten. Bahkan ikan nila merupakan komoditas unggulah Jawa Tengah. Ini mengingat ikan nila selain untuk konsumsi lokal juga merupakan komoditas ekspor terutama ke Amerika Serikat dalam bentuk fillet (daging tanpa tulang dan kulit).
Budidaya ikan nila di wilayah Klaten, dilakukan di lahan kolam maupun lahan non-kolam berupa sawah dan perairan umum seperti rawa/waduk, sungai dan genangan air lainnya. Sementara itu luas lahan kolam di Kabupaten Klaten yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan mencapai 110,37 ha. Namun demikian, mengingat kedalaman air dan debit air yang terbatas dan cenderung berfluktuasi, maka hanya sebagian kecil saja yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya ikan. Sedangkan lahan non-kolam yang kini telah dimanfaatkan untuk budidaya ikan antara lain adalah sawah (mina padi), rawa/waduk (karamba dan jaring tancap), dan perairan umum. Sumber air utama untuk memenuhi kebutuhan air kolam adalah berupa mata air (umbul).

MEMBUAT BOKASIH DENGAN EM4

Sebenarnya, bokashi tak berbeda jauh dengan kompos. Hanya saja pembuatannya memanfaatkan teknologi Mikroorganisme Efektif (effective microorganism). Si Mikroorganisme Efektif itu berfungsi sebagai ragi yang mampu mempercepat proses fermentasi bahan organik menjadi senyawa organik yang mudah diserap tumbuhan. Jika proses pembuatan kompos biasa memerlukan waktu berbulan-bulan, membuat pupuk bokashi cukup satu minggu.
“Ragi” bokashi cukup mudah didapat di pasaran. Umumnya berupa “effective microorganism turunan keempat) yang lebih dikenal sebagai EM-4 yang dijual dalam dalam wujud cair dalam kemasan botol.
Pengalaman membuat bokashi yang saya dapat adalah berkat bantuan Apru, seorang kader SLPHT (Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu). Dari Apru, saya mendapat pengetahuan membuat bokashi padat dan cair. Khusus bokashi padat, racikan bokashi kami rancang untuk digunakan sebagai pupuk dasar pada tanaman keras, karenanya komposisi pupuk kandang diperbanyak.
Dalam pemupukan pupuk bokashi padat digunakan satu kali, di
Untuk bokashi padat, racikan dirancang untuk jenis tanam Bokashi yang kami buat adalah bokashi untuk digunakan pada jenis tanaman keras di kebun kami. Bokashi padat dipakai sebagai pupuk dasar untuk tanaman bokashi padat dan cair untuk jenis diperlukan bahan-bahan sebagai berikut.
CARA MEMBUAT BOKASHI (untuk 1 ton)
A. Bokashi Padat
Bahan:
- Hijauan daun 200 kg (hijauan daun, sisa sayuran, jerami, sekam, dll)
- Pupuk kandang 750 kg (kotoran kambing, ayam, sapi, dll)
- Dedak/bekatul 50 kg
- EM-4 1 liter
- Larutan gula pasir, 1 kg per 10 liter air
- Air secukupnya
Tahapan Pembuatan:
1. Potong sampah basah (3-5 cm), kecuali jika menggunakan sekam
2. Campurkan Sampah basah – pupuk kandang – dedak/bekatul, hingga rata
3. Larutkan EM-4 + Air gula ke dalam 200 liter air.
4. Siramkan larutan secara perlahan secara merata ke dalam campuran sampah basah-kotoran-dedak. Lakukan hingga kandungan air di adonan mencapai 30 – 40 %. Tandanya, bila campuran dikepal, air tidak keluar dan bila kepalan dibuka, adonan tidak buyar.
5. Hamparkan adonan di atas lantai kering dengan ketebalan 15 – 20 cm, lalu tutup dengan karung goni atau terpal selama 5 – 7 hari.
6. Agar suhu adonan tidak terlalu panas akibat fermentasi yang terjadi, adonan diaduk setiap hari hingga suhu dapat dipertahankan pada kisaran 45 – 50 derajad Celsius.
7. Setelah satu minggu, pupuk bokashi siap digunakan.
Aplikasi:
Untuk tanaman tahunan semisal karet, coklat, dan lainnya, gunakan bokashi padat sebagai pupuk dasar. Dua kilogram bokashi diaduk dengan tanah lalu dibenamkan di lubang tanam.
B. Bokashi Cair (untuk 200 liter)
Bahan:
- Pupuk kandang 30 kg (kotoran kambing, ayam, sapi, dll)
- Hijauan daun (secukupnya)
- EM-4 1 liter
- Gula pasir 1 kg
- Terasi 1 kg
- Air bersih 200 liter
- Dapat pula ditambah 2 kg pupuk NPK untuk memperkaya nutrisi
Tahapan Pembuatan:
1. Pupuk kandang dihaluskan
2. Gula pasir – Terasi – EM-4 – NPK dilarutkan dalam air
3. Campuran pupuk kandang dan larutan gula dimasukkan ke dalam drum plastik kemudian ditambahkan air bersih hingga volumenya mencapai 200 liter.
4. Drum ditutup rapat. Setiap hari dibuka dan diaduk selama 15 menit.
5. Bokashi cair akan siap digunakan setelah 5 – 7 hari.
Aplikasi:
1 liter bokashi dicampur dengan 9 liter air bersih. Selanjutnya, siramkan pada tanah di sekitar tanaman atau disemprotkan pada daun sebanyak 0,25 – 1 liter tergantung jenis tumbuhan.
http://dusunlaman.net/?p=143

MEMBUAT PUPUK ORGANIK CAIR

Salam Pertanian! Kalau kita main ke kios-kios pertanian pasti kita akan banyak menemukan pupuk organik cair yang dijual. Demikian juga sekarang banyak sales-sales pupuk orgaik cair yang berkeliaran dimana-mana he he he...
Padahal dengan sangat mudah kita bisa membuat pupuk organik cair tersebut, sehingga kita tidak usah membeli dengan harga yang cukup mahal. Mau tahu caranya?

ALAT DAN BAHAN:

1. Drum/ jerigen
2. Cair: Urine/ limbah cucian ikan/ cucian daging dll
3. Padat: Kotoran sapi, kambing, unggas kalau perlu malah ditambah kotoran kita he he...
4. Hijauan: Tanaman Legume (gliricide, lamtoro, rumput wedusan dll) dan tanaman pakis-pakisan.
5. Tetes tebu/ gula pasir/ gula jawa
6. Buah-buahan busuk: pepaya, nangka, pisang, semangka dll
7. Bacteri pengurai: EM4, M bio, simba dll
8. Abu: Abu dapur, abu sekam dan abu daun bambu

CARA MEMBUAT:

1. Siapkan drum/ jerigen bersihkan jika kotor.
2. Masukkan semua bahan, komposisi bahan sebaiknya cair 70 % dan padat 30 %.
3. Aduk-aduk lalu tutup rapat (karena proses ini menggunakan bacteri anaerob)
4. Tiap 3 hari sekali harus dibuka dan di aduk-aduk
5. Setelah 1 bulan pupuk organik cair siap digunakan (tanda-tanda jadi yaitu bau tidak menyengat dan warna cairan dan bahan hitam kecoklatan)

CARA MENGGUNAKAN:

1. Saring larutan menggunakan kain lalu semprotkan ketanaman dengan konsentrasi 1 gelas 200ml/ tangki semprot.
2. Ampasnya bisa dikeringkan dan gunakan sebagai pupuk organik padat

Gampangkan? tinggal kita ada kemauan apa nggak, kadang diantara kita memang tidak ingin ribet dan maunya serba instan. Dan akhirnya Semoga bermanfaat info ini.
http://gerbangtani.blogspot.com/2010/04/mudahnya-membuat-pupuk-organik-cair.html

Pupuk Cair dari Urin

Dalam artikel kali ini saya coba mempraktekan pembuatan pupuk cair organik dari urine kambing-domba dengan referensi literatur yang saya peroleh dari BPTP-Bali (Membuat Pupuk Cair Bermutu dan Limbah Kambing) dan ditambah pengalaman teman-teman senior yang sudah mengaplikasikannya terlebih dahulu.

Namun demikian saya melakukan modifikasi dan coba-coba mengingat pupuk cair bio urine ini untuk dimanfaatkan sendiri, sebagai catatan pembuatan bio urine sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia, bahan yang diperlukan untuk membuat fermentasi pupuk cair bio urine adalah sebagai berikut :

1. 1 (Satu) drum plastic urine dengan kapasitas 150 liter.
2. Tetes Tebu/Molasses 750 ml.
3. Empon-empon (Temulawak, Temuireng, Kunyit dll) 5kg.
4. Bacteri R Bacillus dan Azobacter sebagai starter fermenter 250 ml. Karena kesulitan serta tidak tahu belinya dimana bakteri tersebut, maka saya menggantinya dengan EM4 sebagai starter fermenter.

Bakteri EM4 dan Molases dilarutkan dalam air jernih sebanyak 10 liter kemudian dituangkan ke dalam drum urine, empon-empon dihancurkan dan dimasukan ke dalam drum. Setelah tercampur antara urine dan bahan-bahan tersebut kemudian urine diaduk sampai rata selama 15 menit, kemudian drum plastic ditutup rapat. Lakukan pengadukan setiap hari selama 15 menit dan kemudian drum ditutup rapat kembali selama tujuh hari.

Setelah tujuh hari urine dipompa dengan menggunakan pompa yang biasa digunakan pada aquarium dan dilewatkan melalui talang plastik dengan panjang 2m yang dibuat seperti tangga selama 3 jam, tujuan proses ini untuk penipisan atau menguapkan kandungan gas ammonia, agar tidak berbahaya bagi tanaman yang akan dberi pupuk bio urine tersebut. Kemudian pupuk cair ini siap digunakan.

Untuk aplikasi pupuk cair ini bisa digunakan dengan cara disiramkan dan atau disemprotkan, kondisi tanah sebelum tanam diolah terlebih dahulu dengan menggunakan kotoran kambing. Berikut cara pemakaian bio urine:

1. Untuk tanaman semusim dan rumput campur bio urine + air dengan perbandingan 1 : 2.
1. King Grass : Pemakaian dengan disiramkan setiap setelah rumput diarit.
2. Jagung, Ubi, Singkong, Cabe dll : Pemakaian dengan disiramkan dan disemprotkan 2 minggu sekali.
2. Untuk tanaman industri dengan asumsi tanamannya baru ditanam dengan ketinggian rata-rata 80 cm, campur bio urine + air dengan perbandingan 1:1.
1. Sengon(Albasia), Turi, Mahoni, Nangka, Ketapang dll : Pemakaian dengan cara disiram dan disemprotkan 2 minggu sekali.

Demikian pembuatan pupuk cair bio urine yang saya lakukan, hasil yang diperoleh dari pemakaian pupuk cair bio urine, dan jika ada pengembangan lebih lanjut termasuk apabila ada pemakaian bahan baru dari pupuk kimia sebagai pelengkap akan saya share pada artikel berikut. Tak lupa mohon masukannya dari para senior apabila ada metoda yang lebih baik dalam pengolahan bio urine tersebut.

pakan ternak dari sapah

Masalah pengelolaan sampah tak hanya dialami oleh Bali. Negara-negara besar, bahkan negara yang sudah maju pun masih sibuk berkutat memerangi sampah, terutama sampah sehari-hari yang jumlahnya cukup banyak. Namun, khusus untuk Bali, masalah sampah mulai sedikit tertanggulangi dengan diluncurkannya teknologi pengolahan sampah menjadi pakan ternak oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, Senin (10/5) kemarin. Bagaimanakah latar belakang penemuan dan apa keuntungan yang bisa diperoleh oleh masyarakat bila menggunakan teknologi ini?

Sampah merupakan masalah yang sangat sulit untuk ditanggulangi, terutama di negara-negara sedang berkembang. Meskipun sudah bisa ditanggulangi, umumnya biaya yang diperlukan untuk pengolahan sampah ini relatif besar terutama bila menggunakan teknologi tinggi. Sehingga, seringkali persoalan sampah ini hanya diselesaikan secara sepotong-sepotong tanpa adanya penyelesaian yang mampu menuntaskannya hingga ke akar permasalahan.

Padahal, persoalan sampah ini mesti mendapatkan perhatian serius dari pemerintah Bali karena posisi daerah ini sebagai sebuah destinasi yang mempunyai nilai jual tinggi bagi wisatawan. Beberapa waktu lalu beberapa konsul negara sahabat dalam kunjungan ke Bali TV, permasalahan sampah ini juga menjadi sorotan.

Konsul Jepang N. Nomura, misalnya, menyesalkan kotornya tempat-tempat pariwisata di Bali. Dia mengaku banyak menerima keluhan dari wisatawan Jepang yang berkunjung ke Bali. Kondisi di lapangan yang dilihat oleh wisatawan ini tentunya akan memperburuk citra Bali sebagai sebuah destinasi.

Untuk itulah perlu adanya pemikiran terpadu guna menjawab persoalan ini. Terlebih lagi dengan makin bertambahnya jumlah penduduk di Bali tidak bisa dihindarkan produksi sampah juga akan makin meningkat. Menjawab peningkatan produksi sampah di Bali dari tahun ke tahun -- yang konon mencapai 3.000 meter kubik/harinya -- BPTP Bali mengadakan penelitian untuk mengembangkan teknologi pengolahan sampah sejak tahun 2003.

Penemuan yang baru diluncurkan kemarin dan didanai oleh Bappeda ini merupakan sebuah alat yang mampu mengolah sampah menjadi pakan ternak, yang tidak saja bisa meminimalisasi tingkat pencemaran lingkungan tetapi juga menguntungkan peternak. Pemikiran untuk secara langsung menggunakan sampah sebagai bahan pakan ternak sangat tepat digunakan di Bali, yang hampir sebagian besar masyarakatnya merupakan peternak.

Pengolahan sampah organik ini, menurut peneliti BPTP yang juga merupakan penemu teknologi pengolahan sampah Suprio Guntoro, sangat efektif dan bisa menyediakan bahan pakan yang murah. Di samping itu, peternak juga tidak usah lagi bersusah payah menanam dan menyabit rumput. ''Teknologi ini sangat efektif, terutama untuk menyediakan pakan ternak pada musim kering,'' katanya.

Pemanfaatan sampah ini juga diharapkan dapat membantu meningkatkan daya tampung ternak di suatu wilayah tanpa harus mengembangkan areal hijauan makanan ternak secara khusus. Untuk Bali yang lahan pertaniannya makin menyempit, sampah bisa dijadikan alternatif untuk mendukung pengembangan usaha ternaknya.

Pakan komplit yang tercipta melalui proses pengolahan sampah ini pun tidak bisa dianggap remeh. Pasalnya, dengan pemberian pakan berbahan baku sampah ini kepada ternak sapi dan kambing sebanyak 3-4 kg/ekor/hari terjadi penambahan bobot sebesar 600 gram/harinya. Bila volume pemberian pakannya ditingkatkan menjadi 7-7,5 kg/ekor/hari maka pertambahan berat ternak sapi akan meningkat menjadi 800 gram.

Dengan ditambahkannya jumlah pakan ini, kebutuhan pakan hijau bisa ditiadakan. Kondisi peningkatan berat ternak ini, kata Guntoro, sudah bisa dilihat di tempat pembuangan akhir (TPA) Temesi, Gianyar, yang merupakan pilot project teknologi pengolahan sampah ini.